Sabtu, 08 Juni 2013

Makna Sebuah Titipan


Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku:
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan-Nya,bahwa rumahku hanya titipan-Nya,bahwa hartaku hanya titipan-Nya,bahwa putraku hanya titipan-Nya,
Tetapi, mengapa ku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan padaku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus aku lakukan untuk milik-Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahawa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok
dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika: aku rajin beribadah maka selayaknya derita menjauh dariku

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah........


"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja." 

WS. Rendra



Catatan kecil:
Bagian merah dari puisi  ini sangat mengena,, betapa tidak.. betapa sering aku berhitung layakknya matematika. Dan itu salah besar..

Ya Allah.... malu sekali rasanya diri ini, dengan sekecil ibadah ku ini Engkau sudah memberikan nikmat yang tak terkira...