Rabu, 01 Februari 2012

Sebuah Renungan Dari Sebuah Pertanyaan

Satu minggu yang lalu saya mendapatkan tugas untuk menjadi admin  dalam  diklat yang diselenggarakan oleh instansi tempat saya bekerja. Diklat yang berlangsung selama 1 minggu tersebut saya ikuti sekama 5 hari karena ada satu dan benerapa hal. Sebahgai seorang yang baru dalam dunia perdiklatan maka saya sangat antusias. Alhamdulillah saya mendapat banyak keberuntungan disana. Dari mualai tempat yang mudah dijangkau, bertemu orang-orang baru yang hebat dan banyak hal baru yang bisa saya lihat dikota tersebut (mungkin untuk kota tersebut akan saya ceritakan pada bagian tersendiri).
Pada tulisan saya kali ini saya hanya akan menceritakan tentang salah satu sesi dimana  ada hal yang cukup menyentil saya dan menjadi renungan. Sesi ini berlangung pada mata diklat pengelolaan peserta didik. Jadi sebelum memulai pertemuan pada siang itu beliau memberikan pertanyaan untuk menyegarkan suasana pertanyaannya seperti ini:

  1. Ada Gajah yang akan dimasukkan dalam kulkas, maka apa yang harus anda sekalian lakukan?
  2. Ada Jerapah yang mau dimaukkan ke dalam kulkas maka apa yang harus anda sekalian lakukan?
  3. inga si Raja Hutan mau mengadakan rapat kabinet, maka semua warga hutan harus datang, namun ada warga hutan yang tidak datang, siapakah dia? 
  4.  Anda ingin menyebarang sungai yang jembatannya sudah putus dan tidak ada perahu, untuk jalan memutar anda butuh waktu yang lebih lama,  dan didalam sungai tersebut terdapat buaya yang siap menerkam mangsanya, maka apa yang akan anda lakukan?
  *jawaban memang sengaja tidak saya tampilkan, bila ada yg mau jawab silahkan komen, ya... hehehehe*


Dalam menjawab pertanyaan tersebut hampir 85% peserta menjawab salah (dalam artian ada sekitar 30% yang menjawab salah dan selebihnya diam). Namun masih kata Narasumbernya, hal ini jika diuji di anak setingkat Play Grup maka akan banyak anak yang menjawab benar (entah kebenarannya seperti apa saya belum mengujinya) namun intinya yang ingin saya tulis disini adalah betapa ironisnya orang-orang dewasa belum mampu berpikir secara ringkas saja mengenai hal ini, karena mereka cenderung berpikir secara kompleks dan terlalu berputar-putar. Padahal bukankan ini sebuah pertanyaan yang kondisional, dan ini harus di selesaikan secara kondisional juga.
Lalu pikiran saya menerawang ke anak-anak didik yang ada disekolah-sekolah. Apakah pendidikan mereka sebegitu kompleknya sehingga mereka juga akan sulit untuk menerima pertanyaan yang kondisional  sperti ini juga? Apakah mereka juga akan berpikir terlalu rumit?. Maka tak heran selalu saja matematika mereka bilang sebagai momok dalam pelajaran mereka. Karena masih dalam diklat ini juga ada yang mengemukakan pendapat yang intinya mengapa matematika menjadi mapel yang dirasa sulit pada saat uan. Ada seorang peserta yang mengatakan bahwa pendidikan dasarlah yang kurang, tetapi menurut saya bukan disini masalahnya. Masalahnya adalah guru dalam hal ini masih teks book dalam memberikan mata pelajaran. Tak jauh beda dengan apa yang saya lakukan dulu. Saya dulu hanya memberikan pelajaran berdasar pada ketereselesaian kurikulum, capaian nilai akhir tanpa saya perhatikan apakah makna yang mereka serap.
Dan menurut saya inilah yang terlewat dari sebuah pembelajaran. Karena pada hakikatnya pembelajaran adalah proses yang dilakukan untuk memberikan makna pada belajar siswa. Namun apa jadinya bila siswa kita hanya belajar untuk berorientasi pada nilai? Maka tak jauh beda dengan pertanyaan kondisional tadi, siswa aka sulit mengidentifikasi apa yang harus mereka lakukan pada kondisi-kondisi tertentu. Ibarat seorang tentara dia mempunyai banyak senjata, tau memakainya namun mereka tidak tahu kapan saat yang tepat. Artinya mereka akan memakai peluru angin untuk menembak penjahat, dan memakai granat untuk menangkap hasil buruan. Apakah sebenarnya ini yang kita inginkan dalam pendidikan di Indonesia. Maka jika bukan ini yang kita inginkan, hendaknya para guru mulai mengubah paradigma mereka dalam meyampaikan gagasannya pada siswa. Karena mereka sebenarnya bukanlah botol kosong yang harus diisi, melainkan mereka adalah kertas, yang harus ditulis dengan banyak warna. Karena banyak warna yang harus di lukiskan disana, maka tugas seorang guru menurut saya adalah mengarahkan krayon atau pensil warna mana dulu yang harus digunakan untuk menggambar.
Sesuai dengan kata motivasi yang menjadikan renungan saya ini ada : “Guru yang baik adalah guru yang mampu membuat yang sulit itu mudah dihadapan siswanya”. Maka jika Guru saja sulit untuk memahami arti pertanyaan itu maka apakah siswa telah diajari sesuatu yang mudah? . Maka pada bagian akhir ini semoga para guru bisa membantu siswa untu bisa memahami pelajaran yang diberikan bukan hanya sebagai alat untuk memberikan nilai yang akan membantu mereka naik kelas, lulus UAN, atau pun mendapat peringkat. Tetapi sebagai sebuah pelajaran yang mampu memberikan “nilai” dalam kehidupan mereka, bisa menjadi penopang atau pengalaman hidup yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan pribadi mereka kelak.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar